BRIDA Kaltim Andalkan Kolaborasi agar Produktivitas Riset Tetap Terjaga
- calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
- print Cetak

Foto: Kepala BRIDA Provinsi Kaltim, Fitriansyah (ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KALTIM, kaltimupdatenews.com-Keterbatasan anggaran tidak menjadi alasan bagi Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Kalimantan Timur untuk mengurangi produktivitas penelitian. Di tengah penyusutan pagu anggaran, lembaga tersebut tetap menargetkan puluhan riset setiap tahun melalui berbagai strategi efisiensi dan penguatan kolaborasi dengan perguruan tinggi.
Kepala BRIDA Kaltim, Fitriansyah, mengatakan target pelaksanaan penelitian tetap dipertahankan pada kisaran 20 hingga 30 riset setiap tahun. Sebagian besar kegiatan tersebut kini dilaksanakan melalui skema kemitraan dengan perguruan tinggi untuk mengoptimalkan sumber daya yang tersedia.
“Jumlah riset tetap kita pertahankan sekitar 20 sampai 30, dan kebanyakan merupakan kolaborasi dengan perguruan tinggi,”ujarnya, Rabu (22/7/2026).
Menurut Fitriansyah, penyesuaian juga dilakukan pada metode penelitian agar kegiatan riset tetap berjalan efektif dengan biaya yang lebih efisien. Salah satunya melalui penyederhanaan cakupan wilayah pengambilan sampel.
Apabila sebelumnya penelitian dilakukan di seluruh 10 kabupaten dan kota di Kalimantan Timur, kini pengumpulan data hanya difokuskan pada tiga daerah yang dianggap mampu mewakili kondisi penelitian.
“Biasanya penelitian kita mencakup seluruh kabupaten/kota, sekarang terpaksa hanya tiga daerah. Memang ada pengaruh terhadap hasil, tetapi dengan metodologi yang disesuaikan kami berharap riset tetap bisa berjalan,”katanya.
Ia menjelaskan, biaya perjalanan dinas masih menjadi komponen terbesar dalam pelaksanaan penelitian karena proses pengumpulan data dilakukan langsung di lapangan. Selain itu, BRIDA juga harus mengalokasikan anggaran untuk pengujian laboratorium lantaran belum memiliki fasilitas laboratorium sendiri.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, BRIDA masih menggandeng laboratorium milik sejumlah perguruan tinggi sebagai mitra pelaksana pengujian.
Di sisi lain, anggaran yang dikelola BRIDA Kaltim saat ini mengalami penurunan cukup signifikan. Dari yang sebelumnya pernah mencapai sekitar Rp30 miliar, kini tersisa sekitar Rp19 miliar. Sebagian besar anggaran tersebut digunakan untuk membiayai kebutuhan operasional pegawai.
“Kini anggaran yang kita kelola hanya berkisar Rp19 miliar dan sebagian besar digunakan untuk kebutuhan operasional pegawai,” ungkap Fitriansyah.
Meski demikian, BRIDA memastikan kondisi tersebut tidak akan menghambat pelaksanaan riset. Upaya memperluas sumber pendanaan terus dilakukan, termasuk menjalin kerja sama dengan berbagai lembaga di dalam maupun luar negeri.
Selain mencari dukungan pendanaan eksternal, BRIDA juga menerapkan skema pembiayaan bersama (co-funding) dengan perguruan tinggi agar penelitian tetap dapat dilaksanakan tanpa bergantung sepenuhnya pada APBD.
“Kita mulai mencari pendanaan riset dari luar, termasuk dari luar negeri. Ada juga skema kolaborasi dengan perguruan tinggi. Misalnya riset senilai Rp100 juta, sebagian dibiayai BRIDA dan sebagian lagi oleh perguruan tinggi,” tutupnya.(*rbn/jay)
- Penulis: Editor






Saat ini belum ada komentar