Takasinema Hadir, Perkuat Ruang Kreatif Perfilman Lokal di Paser
- calendar_month 40 menit yang lalu
- print Cetak

Foto:Kegiatan Layar Literasi Paser yang dirangkaikan dengan peluncuran Komunitas Takasinema, belum lama ini di Ruang Mini Bioskop Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Paser (ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANA PASER, kaltimupdatenews.com-Upaya memperkuat ekosistem perfilman daerah terus menunjukkan perkembangan positif. Kehadiran Komunitas Takasinema yang resmi diluncurkan melalui kegiatan Layar Literasi Paser menjadi langkah baru dalam membuka ruang kreativitas, apresiasi, dan pembelajaran bagi para sineas muda di Kabupaten Paser.
Peluncuran yang berlangsung di Ruang Mini Bioskop Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Paser itu dihadiri pegiat seni, komunitas kreatif, organisasi kepemudaan, serta para pembuat film lokal. Selain diskusi, peserta juga disuguhi pemutaran sejumlah karya film hasil produksi anak daerah.
Founder TBM D’Qadar, Dodi Wahyudi, menilai program Layar Literasi Paser memiliki peran penting dalam mendorong tumbuhnya minat generasi muda terhadap dunia perfilman.
“Layar Literasi Paser bukan hanya tempat menonton film. Di sini anak-anak muda bisa bertemu, berdiskusi, belajar, dan membangun jaringan kreatif yang dibutuhkan untuk mengembangkan perfilman daerah,” ujarnya, Senin (8/6/2026)
Menurut Dodi, keberadaan ruang pemutaran dan forum diskusi menjadi sarana efektif untuk memperkuat budaya literasi visual sekaligus mencetak talenta-talenta baru di bidang sinematografi.
Sementara itu, Ketua Takasinema, Suryandany, mengatakan komunitas yang baru dibentuk tersebut akan berfokus pada pengembangan ruang apresiasi dan produksi film lokal secara berkelanjutan.
Ia berharap Takasinema dapat menjadi wadah bersama bagi siapa saja yang memiliki minat terhadap dunia perfilman.

“Kami ingin Takasinema menjadi rumah bersama bagi para pembuat film di Paser. Ruang yang terbuka untuk siapa saja yang ingin belajar, berkarya, dan menampilkan hasil karyanya kepada masyarakat,” katanya.
Suryandany yang juga dikenal sebagai penulis film dokumenter Jaga (The Forest Savior) menegaskan bahwa kolaborasi antarkomunitas menjadi faktor penting untuk meningkatkan kualitas dan daya saing film daerah.
Dalam sesi diskusi, penulis film fiksi A Match Made in Heaven in Pasir Mayang, Hafidz, mengajak masyarakat untuk membangun budaya apresiasi terhadap karya film lokal. Menurutnya, dukungan penonton merupakan bagian penting dalam proses perkembangan sebuah karya.
“Sebuah film tidak berhenti ketika proses produksi selesai. Film harus ditonton, didiskusikan, dan dievaluasi agar para pembuatnya dapat terus berkembang dan meningkatkan kualitas karya berikutnya,” jelasnya.
Pandangan serupa disampaikan Gifaf, penulis film Detik Akhir. Ia menilai sineas daerah harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan perubahan perilaku penonton di era digital.
“Perkembangan zaman menuntut sineas untuk terus berinovasi. Film yang dibuat hari ini harus mampu menjawab kebutuhan penonton saat ini tanpa kehilangan identitas lokal yang menjadi kekuatannya,” tuturnya.
Melalui program Layar Literasi Paser dan kehadiran Takasinema, para pegiat perfilman berharap semakin banyak ruang kreatif yang tersedia bagi sineas muda. Dengan demikian, karya-karya yang mengangkat cerita, budaya, dan potensi daerah dapat terus lahir dan dikenal lebih luas.(ADT/Jay)
- Penulis: Admin



Saat ini belum ada komentar