Nobar Film Pesta Babi di UMKT Paser Buka Diskusi Kritis soal Pertanian dan Lingkungan
- calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
- print Cetak

Foto:Foto:Nobar Film Dokumenter di UMKT Paser "Pesta Babi Kolonialisme di Zaman Kita" (Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANA PASER, kaltimupdatenews.com-Suasana ruang kelas Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) Kampus Paser dipenuhi ratusan mahasiswa pada Rabu (20/5/2026) malam saat pemutaran film dokumenter “Pesta Babi”: Kolonialisme di Zaman Kita berlangsung. Kegiatan nonton bareng (nobar) yang digagas mahasiswa tersebut berkembang menjadi forum diskusi mengenai persoalan pertanian, relasi masyarakat adat dengan hutan, serta tantangan pembangunan yang berdampak pada lingkungan.
Pemutaran film dokumenter yang sebelumnya sempat memicu perhatian publik itu dijadikan sarana pengayaan wawasan mahasiswa terhadap isu sosial dan dinamika pembangunan, khususnya pada sektor pertanian dan pengelolaan sumber daya alam.
Wakil Dekan II UMKT Kampus Paser, Asman, menyebut kampus memandang kegiatan tersebut sebagai bagian dari proses akademik yang memberi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas pemahaman terhadap berbagai isu di masyarakat.
“Mahasiswa memiliki inisiatif untuk menghadirkan ruang belajar di luar kelas melalui diskusi seperti ini. Kampus tentu mendukung selama kegiatan mampu memperkaya wawasan dan membangun daya pikir kritis mahasiswa terhadap persoalan sosial,” katanya.
Menurut Asman, film dokumenter tersebut mengangkat realitas yang memperlihatkan perbedaan cara pandang antara masyarakat adat yang bergantung pada kelestarian hutan untuk menopang kehidupan dan pertanian, dengan pendekatan pembangunan yang mendorong peningkatan produksi melalui modernisasi sektor pertanian.
Ia mengatakan kondisi tersebut perlu dilihat secara berimbang agar publik tidak terjebak pada satu sudut pandang tertentu.
“Persoalan pertanian dan lingkungan tidak bisa dipahami secara hitam-putih. Ada masyarakat yang menjaga pola hidup berbasis hutan, tetapi pemerintah juga mempunyai target pembangunan untuk memperkuat sektor pertanian. Dua perspektif ini penting dipahami bersama,” ujarnya.
Asman juga menilai film itu lebih banyak mengeksplorasi pengalaman masyarakat adat sehingga perspektif pemerintah terkait kebijakan penguatan pertanian belum tergambar secara menyeluruh.
Karena itu, ia menilai mahasiswa perlu membiasakan diri melihat isu pembangunan dari berbagai sisi, termasuk memahami alasan pemerintah dalam menyusun kebijakan sektor pertanian.
“Mahasiswa harus terbiasa melihat persoalan secara komprehensif. Program pembangunan tentu lahir dengan tujuan tertentu, sehingga penting dipahami bagaimana implementasi dan dampaknya bagi masyarakat,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia mencontohkan upaya Pemerintah Kabupaten Paser dalam mendorong pengembangan pertanian melalui pendampingan petani, keterlibatan akademisi, hingga pengembangan sentra produksi berbasis potensi wilayah di tingkat kecamatan.
Meski demikian, menurutnya, efektivitas program pembangunan akan lebih terasa apabila dibarengi pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat tani.
“Ketika komunikasi dengan petani dibangun secara baik dan pendekatannya lebih humanis, peluang keberhasilan program tentu menjadi lebih besar karena masyarakat merasa dilibatkan,” ujarnya (Jay)
- Penulis: Editor



Saat ini belum ada komentar