PMII Paser Gandeng DPPKBP3A Cegah Kekerasan Seksual, Momentum Harlah ke-66 Jadi Tonggak Transformasi Organisasi
- calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
- print Cetak

Foto: Penandatanganan nota kesepahaman pada malam puncak Harlah PMII ke-66 yang berlangsung di Gedung Nahdlatul Ulama (NU), (ADT/kaltimupdatenews)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANA PASER, kaltimupdatenews.com-Isu kekerasan seksual dan perundungan di kalangan generasi muda menjadi perhatian serius Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kabupaten Paser. Melalui momentum Hari Lahir (Harlah) ke-66, organisasi mahasiswa tersebut menggandeng Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Paser untuk memperkuat langkah pencegahan di lingkungan kampus dan organisasi kepemudaan.
Kolaborasi itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada malam puncak Harlah PMII ke-66 yang berlangsung di Gedung Nahdlatul Ulama (NU), Jalan dr. Cipto Mangunkusumo, Kamis malam (22/5/2026). Agenda tersebut sekaligus menjadi momen peluncuran logo dan website resmi PMII Paser sebagai bagian dari penguatan identitas organisasi di era digital.
Acara dihadiri unsur Ikatan Alumni PMII (IKA PMII) Kabupaten Paser, Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), perwakilan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama beserta badan otonom (Banom), hingga sejumlah organisasi kepemudaan dan pelajar.
Tampak hadir Kepala Satuan Intelijen dan Keamanan (Kasat Intelkam) Polres Paser AKP Cecep Ikon Saefulloh, Analis Kebijakan Ahli Muda Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Paser Agus Epriyanto, serta Ketua Korps PMII Putri (Kopri) Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Kalimantan Timur Amiratuzzakirah.
Ketua PC PMII Paser, Yarahman, mengatakan peringatan Harlah tahun ini tidak sekadar menjadi seremoni organisasi, melainkan momentum mempertegas keberpihakan PMII terhadap isu perlindungan generasi muda, khususnya dari ancaman kekerasan seksual dan praktik perundungan.
“PMII ingin hadir bukan hanya sebagai organisasi kaderisasi, tetapi juga bagian dari solusi sosial. Ruang kampus dan organisasi kepemudaan harus menjadi tempat yang aman, sehingga upaya edukasi, pencegahan, sampai penguatan kesadaran publik perlu terus dilakukan,” ujarnya.

Ia menambahkan, penguatan literasi digital juga menjadi bagian penting dalam gerakan organisasi. Menurutnya, pemanfaatan website resmi dan media digital diharapkan dapat memperluas edukasi mengenai bahaya kekerasan seksual sekaligus membangun kontrol sosial di tengah masyarakat.
“Transformasi gerakan harus menyesuaikan perkembangan zaman. Karena itu, ruang digital perlu dimanfaatkan untuk menyebarkan edukasi dan membangun kesadaran bersama terhadap berbagai bentuk kekerasan,” katanya.
Sementara itu, Kepala DPPKBP3A Kabupaten Paser, Amir Faisol, menilai inisiatif PMII Paser merupakan langkah progresif yang patut diapresiasi karena melibatkan organisasi kepemudaan dalam agenda perlindungan perempuan dan anak.
Menurut dia, keterlibatan anak muda memiliki posisi penting dalam memperluas kampanye pencegahan kekerasan, terutama di tengah meningkatnya interaksi sosial melalui platform digital.
“Kami menyambut baik keterlibatan PMII Paser dalam penguatan program pencegahan. Kolaborasi seperti ini penting agar edukasi tidak hanya bergerak di tingkat pemerintah, tetapi juga tumbuh dari komunitas dan organisasi pemuda,” tuturnya.
Amir menjelaskan, kekerasan seksual dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari kekerasan fisik, verbal, nonfisik, pelecehan berbasis media sosial hingga eksploitasi. Karena itu, ia menekankan perlunya keterlibatan lintas sektor agar upaya pencegahan berjalan lebih optimal.
“DPPKBP3A mendorong agar pola kolaborasi serupa dapat diperluas ke berbagai daerah di Kalimantan Timur sebagai langkah memperkuat perlindungan perempuan, anak, dan generasi muda, ” ujarnya (ADT/JAY)
- Penulis: Editor



Saat ini belum ada komentar