Bendera Borneo Raya Terpasang di Samarinda, Pemasang Belum Diketahui
- calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
- print Cetak

Foto: Bendera borneo raya yang dibentangkan di Fly Over Juanda, Samarinda yang viral di Media Sosial, (ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KALTIM, kaltimupdatenews.com-Pemandangan tak biasa terlihat di salah satu flyover di Samarinda pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026). Bendera berwarna merah, kuning, dan biru yang dikenal sebagai simbol Borneo Raya terbentang di sisi flyover dan berdampingan dengan Merah Putih.
Atribut tersebut ditemukan sejak dini hari di sisi turunan flyover dari arah Jalan Pembangunan menuju kawasan Jalan Juanda, Kadrie Oening hingga Jalan AW Sjahranie. Selain bendera, sejumlah spanduk berisi kritik terhadap kondisi sosial juga turut terpasang.
Kemunculan atribut itu sontak menjadi perhatian setelah fotonya beredar di media sosial. Salah satu akun yang mengunggahnya, menyebut pemasangan tersebut berkaitan dengan keresahan masyarakat terhadap berbagai persoalan ketidakadilan.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bergerak cepat. Bendera dan spanduk yang terpasang kemudian diturunkan oleh petugas.
Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji mengatakan pemerintah mendapat informasi mengenai keberadaan atribut tersebut pada Senin pagi. Petugas langsung menuju lokasi untuk memastikan kondisi di lapangan.
“Begitu kami mendapat laporan, langsung kami tindak lanjuti. Bendera dan spanduk yang ada di sana kemudian kami turunkan,” ujar Seno.
Meski atribut telah dicopot, siapa pihak yang memasangnya masih belum terungkap. Seno menyebut tidak ada orang yang ditemukan berada di sekitar lokasi saat petugas datang.
“Ketika petugas tiba, lokasi sudah kosong. Tidak ada orang yang bisa kami mintai keterangan terkait siapa yang memasang atribut tersebut,” katanya.
Seno memastikan kemunculan bendera Borneo Raya tersebut merupakan kejadian yang baru pertama kali ditemukan di Kaltim. Ia menyebut penggunaan simbol serupa sebelumnya pernah terdengar di wilayah Kalimantan lainnya, termasuk Kalimantan Barat.
“Sepengetahuan kami, di Kaltim ini belum pernah ada kejadian seperti ini. Informasi tentang bendera tersebut memang pernah muncul di Kalimantan Barat,” jelasnya.
Menurut Seno, keberadaan bendera tersebut tidak boleh menggeser semangat peringatan kemerdekaan. Ia meminta masyarakat tetap menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi oleh simbol maupun narasi yang dapat menimbulkan polemik.
“Kaltim sejak dulu menunjukkan komitmen terhadap Indonesia. Karena itu, jangan sampai munculnya atribut seperti ini membuat kita lupa bahwa kita sedang memperingati kemerdekaan Indonesia,” tegasnya.
Tegaskan Komitmen terhadap NKRI
Seno menekankan bahwa Kalimantan Timur merupakan bagian integral dari Indonesia. Ia mengajak seluruh masyarakat mempertahankan komitmen terhadap NKRI dan dasar negara.
“Yang paling penting adalah menjaga keutuhan NKRI, menjunjung Pancasila, dan menjadikan UUD 1945 sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.
Ia juga meminta momentum HUT ke-81 RI dimanfaatkan untuk memperkuat kebersamaan serta mengisi kemerdekaan melalui pembangunan.
“Semangat kemerdekaan harus kita wujudkan dengan persatuan dan kerja nyata. Mari kita kembali menjadikan Merah Putih sebagai simbol utama dalam peringatan kemerdekaan,” ujarnya.
Di sisi lain, istilah Borneo Raya memiliki konteks sejarah yang lebih panjang. Dalam berbagai kajian mengenai masyarakat Kalimantan, istilah Borneo Raya maupun Dayak Raya pernah digunakan untuk menggambarkan ruang kebudayaan dan kehidupan masyarakat di Pulau Borneo.
Sejarah masyarakat Dayak juga mencatat Musyawarah Besar Tumbang Anoi yang berlangsung pada 22 Mei hingga 24 Juli 1894 di Kalimantan Tengah. Pertemuan tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam mempererat persatuan kelompok-kelompok Dayak dan mengakhiri tradisi ngayau.
Dalam perkembangan kontemporer, simbol Borneo Raya juga digunakan oleh sejumlah kelompok untuk menyuarakan identitas budaya serta berbagai aspirasi masyarakat Kalimantan.
Sejumlah isu yang kerap dikaitkan dengan penggunaan simbol tersebut meliputi pengelolaan sumber daya alam, pembangunan infrastruktur, hak masyarakat adat, pendidikan, layanan kesehatan, hingga perhatian terhadap kawasan terpencil dan perbatasan.
Karena itu, penggunaan bendera Borneo Raya di Samarinda belum dapat langsung dimaknai sebagai gerakan separatis. Motif pemasangan, identitas pihak yang memasang, serta keterkaitannya dengan organisasi tertentu masih belum diketahui.
Beberapa jam setelah ditemukan, bendera dan spanduk tersebut sudah tidak terlihat di lokasi.
Hafiz, warga yang melintas di kawasan flyover sekitar pukul 10.00 Wita, mengatakan kondisi flyover telah kembali bersih.
“Sekitar pukul 10.00 Wita saya lewat, bendera dan spanduknya sudah tidak ada. Sebelumnya saya memang sempat melihat fotonya beredar di Instagram,” ungkap Hafiz.
Seno berharap persoalan tersebut tidak mengganggu suasana peringatan HUT ke-81 RI. Ia mengajak masyarakat menjadikan momentum kemerdekaan sebagai kesempatan memperkuat persatuan dan mempercepat pembangunan daerah.
“Perayaan kemerdekaan harus menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan. Mari kita isi kemerdekaan ini dengan pembangunan dan hal-hal yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.(*rbn).
- Penulis: Editor



Saat ini belum ada komentar