Refleksi Profesi Menuju Konferkab PWI Paser 2026–2029
- calendar_month 15 menit yang lalu
- print Cetak

Penulis: Sekertaris SMSI Kabupaten Paser TB Sihombing
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANA PASER, kaltimupdatenews.com-Pelaksanaan Konferensi Kabupaten (Konferkab) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Paser tinggal menghitung hari. Forum musyawarah tertinggi organisasi wartawan di tingkat daerah ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari, pada 7–8 Juni 2026.
Agenda tersebut rencananya dipadukan antara proses pemilihan ketua dan pelantikan pengurus. Berdasarkan informasi yang saya peroleh, Konferkab akan berlangsung pada Minggu, sementara pelantikan pengurus dijadwalkan pada Senin.
Konferkab PWI di wilayah selatan Provinsi Kalimantan Timur ini menjadi pelaksanaan keenam, dengan agenda utama memilih ketua dan pengurus baru periode 2026–2029 sekaligus mengevaluasi program kerja organisasi.
Sebagai seseorang yang terlibat dan akan menjadi peserta Konferkab untuk ketiga kalinya, saya memiliki harapan besar sekaligus catatan evaluatif terhadap kepemimpinan saat ini maupun calon pengurus mendatang.
Terhadap dua calon ketua untuk tiga tahun ke depan, yakni Muhammad Najib dan Tomi Wirahadi Wijaya, saya berharap keduanya mampu menjadi pemimpin para “kuli tinta” yang terus berupaya menjaga keberlangsungan kehidupan pers.
Pers yang kerap disebut sebagai pilar demokrasi tentu memiliki tanggung jawab besar menjaga perannya sebagai fourth estate atau kekuatan keempat dalam sistem demokrasi, terutama di tengah perkembangan digital yang berlangsung begitu cepat.
Tugas ini sangat penting. Sebagai mitra strategis pemerintah sekaligus penghubung informasi bagi masyarakat, PWI harus mampu mendorong terwujudnya pemerintahan yang akuntabel, bersih, transparan, dan bebas dari praktik korupsi, kolusi, serta nepotisme (KKN) melalui kerja-kerja jurnalistik yang profesional.
Lebih dari itu, menyelamatkan kehidupan pers sejatinya berarti turut menjaga kehidupan demokrasi di Indonesia. Di tengah gempuran media sosial saat ini, pers tampak menghadapi tantangan besar dalam menjalankan fungsi kontrol terhadap kekuasaan sekaligus menyampaikan informasi yang benar kepada publik. Hal ini tentu berkaitan erat dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang disajikan.
Harapan tersebut bukan tanpa alasan. Menurut saya, kondisi ini tidak terlepas dari kepemimpinan organisasi saat ini yang masih perlu dievaluasi secara menyeluruh. Ketidakmampuan memimpin organisasi, pada akhirnya, mencerminkan ketidakmampuan mengelola gagasan dan arah gerak bersama. Dalam pandangan saya, situasi itu turut tercermin pada kondisi PWI Paser hari ini.
Meski baru delapan tahun bergelut di dunia jurnalistik dan hampir tujuh tahun bertugas di Bumi Daya Taka, saya merasa cukup mengikuti, bahkan terlibat, dalam dinamika perkembangan pers di daerah ini. Mungkin bukan waktu yang terlalu panjang, tetapi rutinitas kerja telah membuat saya lebih cepat memahami situasi dan tantangan yang dihadapi.
Jauh di lubuk hati, saya ingin mengingatkan rekan-rekan, khususnya mereka yang baru mengenal profesi yang sering dijuluki “ratu dunia” ini, agar tidak pernah berhenti memperluas wawasan dan rasa ingin tahu. Jangan sampai kita kalah dalam pengetahuan, apalagi dicap sekadar sebagai corong informasi.
Dalam konteks kepemimpinan organisasi profesi wartawan tertua ini, saya berharap siapa pun yang terpilih kelak hadir bukan karena ambisi pribadi, melainkan panggilan untuk melayani dan membawa profesi wartawan semakin dihormati serta memiliki kedudukan yang setara di berbagai kalangan.
Terakhir, jangan jadikan panggung PWI sebagai ruang memperkaya diri atau sekadar batu loncatan menuju lingkaran oligarki. Tanggung jawab utama seorang wartawan tetaplah mengedukasi publik, dengan kesadaran bahwa profesi ini bukan hanya pekerjaan, melainkan amanah sosial yang harus dijaga.
- Penulis: Editor



Saat ini belum ada komentar