Wisata Desa Luan Kehilangan Geliat, Efisiensi Anggaran Tekan Ekonomi Warga
- calendar_month Senin, 10 Agt 2026
- print Cetak

Foto: Kondisi Gunung Embun yang sepi pengunjung(Jay/kaltimupdatenews)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
TANA PASER, Kaltimupdatenews.com-Geliat ekonomi di sekitar objek wisata Desa Luan, Kabupaten Paser, ikut meredup seiring anjloknya jumlah kunjungan wisatawan. Kondisi itu tidak hanya dipengaruhi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan akses jalan yang belum memadai, tetapi juga keterbatasan anggaran pemerintah untuk menopang pengembangan sektor pariwisata.
Kepala Desa Luan, Ridwan Suwidi, mengatakan penurunan aktivitas wisata saat ini cukup terasa dibandingkan sebelumnya. Berkurangnya wisatawan turut berdampak terhadap masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari aktivitas ekonomi di sekitar objek wisata Gunung Sembunyikan.
“Sekarang kunjungan memang turun cukup tajam. Kenaikan BBM menjadi salah satu pengaruh, ditambah kondisi infrastruktur yang belum optimal. Di sisi lain, pemerintah juga sedang melakukan efisiensi anggaran,” kata Ridwan, Senin (10/8/2026).
Menurut Ridwan, pengelolaan objek wisata di Desa Luan masih berada di bawah pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata. Kondisi keuangan daerah yang terbatas membuat sejumlah program pengembangan wisata belum dapat berjalan maksimal.
Ia berharap dukungan pemerintah daerah terhadap sektor pariwisata dapat kembali diperkuat ketika kondisi fiskal mulai membaik.

“Kami berharap kondisi ini segera stabil. Kalau ruang anggaran pemerintah sudah memungkinkan, tentu kami berharap sektor wisata kembali mendapat dukungan,” ujarnya.
Meski sektor pariwisata tengah lesu, Desa Luan tidak ingin hanya bergantung pada kunjungan wisatawan. Pemerintah desa mulai mengembangkan sejumlah potensi ekonomi lain yang dinilai mampu menjadi penopang pendapatan masyarakat. Potensi tersebut antara lain peternakan, perkebunan, perikanan, serta pemanfaatan sumber daya alam berupa batu gunung dan pasir.
Di bidang peternakan, pemerintah desa menjalankan program ketahanan pangan dengan mengembangkan ayam kampung dan ayam petelur. Untuk tahap awal, sekitar 200 ekor ayam kampung telah dipelihara. Ridwan menyebut pengembangan dilakukan secara bertahap karena pemerintah desa masih menyesuaikan kemampuan anggaran.
“Kami mulai dari skala kecil dulu. Kandang sudah dibangun, kemudian kami siapkan bibit dan pakannya. Kalau ini berkembang, harapannya bisa menjadi salah satu sumber ekonomi baru bagi masyarakat,” jelasnya.
Selain peternakan, pemerintah desa juga melihat peluang dari perkebunan. Bahkan, sektor tersebut kini diarahkan menjadi salah satu sumber pendapatan desa. Sementara untuk potensi batu gunung dan pasir, pemerintah desa telah menjalin komunikasi dengan sejumlah perusahaan. Namun, pemanfaatannya belum dapat dilakukan secara optimal karena masih terbentur persoalan perizinan.

“Untuk batu gunung dan pasir sebenarnya ada potensi untuk dikembangkan. Kami sudah menjalin kerja sama dengan perusahaan, tetapi prosesnya masih terkendala perizinan,” katanya.
Tekanan terhadap ekonomi Desa Luan semakin terasa setelah anggaran desa pada 2026 disebut mengalami pemangkasan sekitar 60 hingga 70 persen. Kondisi tersebut memaksa pemerintah desa menata ulang sejumlah rencana pembangunan.
Menurut Ridwan, dampak paling nyata terlihat pada pembangunan infrastruktur, terutama jalan yang menjadi akses utama masyarakat dalam menjalankan aktivitas ekonomi.
“Pemangkasan anggaran ini sangat kami rasakan. Banyak rencana pembangunan yang harus disesuaikan, sementara masyarakat juga terus membutuhkan infrastruktur, terutama jalan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan pembangunan jalan tidak dapat dilakukan secara sederhana karena membutuhkan biaya sejak tahap pembukaan badan jalan, pengerasan hingga semenisasi.

Bagi masyarakat desa, keberadaan jalan yang layak memiliki kaitan langsung dengan pergerakan ekonomi. Akses yang baik akan mempermudah aktivitas pertanian, distribusi hasil perkebunan, serta mobilitas masyarakat.
“Jalan usaha tani dan jalan ekonomi itu sangat penting. Kalau aksesnya bagus, hasil produksi masyarakat lebih mudah keluar dan pada akhirnya perputaran ekonomi juga ikut meningkat,” ujarnya.
Keterbatasan anggaran membuat Pemerintah Desa Luan kini berupaya mencari sumber pembiayaan lain. Salah satunya melalui kerja sama dengan perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Selain itu, pemerintah desa mengoptimalkan usaha yang dapat menghasilkan pendapatan secara mandiri. Ridwan mengakui sektor pariwisata hingga kini belum memberikan pemasukan secara langsung terhadap Pendapatan Asli Desa (PADes). Meski demikian, ia menilai manfaat ekonomi dari keberadaan objek wisata tetap dirasakan masyarakat.
Aktivitas wisatawan, kata dia, membuka peluang bagi warga untuk memperoleh penghasilan melalui perdagangan dan berbagai kegiatan ekonomi di sekitar objek wisata.
“Memang untuk PADes belum ada pemasukan langsung dari sektor wisata. Tetapi kalau melihat manfaatnya bagi masyarakat, dampaknya cukup besar karena ada aktivitas ekonomi ketika wisatawan datang,” katanya.
Untuk memperkuat PADes, pemerintah desa kemudian mengembangkan kebun desa. Pengadaan lahan perkebunan tersebut salah satunya didukung melalui dana CSR perusahaan.
Hasil pengelolaan kebun desa dimanfaatkan untuk membantu membiayai kebutuhan operasional pemerintahan desa, termasuk pengadaan alat tulis kantor, rapat yang bersifat mendesak, hingga kegiatan sosial dan pemberian santunan kepada masyarakat.
“Pendapatan dari kebun desa ini sangat membantu kami. Setidaknya bisa digunakan untuk kebutuhan yang sifatnya mendesak, termasuk operasional dan kegiatan sosial masyarakat,” pungkas Ridwan.
Di tengah keterbatasan fiskal, Pemerintah Desa Luan kini dituntut lebih kreatif menggali potensi lokal. Pariwisata tetap dipandang sebagai salah satu sektor strategis, namun pengembangannya membutuhkan dukungan infrastruktur dan kebijakan anggaran yang lebih kuat agar kembali mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. (Jay)
- Penulis: Editor



Saat ini belum ada komentar