Perlambatan Ekonomi Jadi Alarm Transformasi, BI Minta Kaltim Kurangi Ketergantungan Batu Bara
- calendar_month Jumat, 17 Jul 2026
- print Cetak

Foto: Kepala KPw BI Kaltim Jajang Hermawan (ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KALTIM, kaltimupdatenews.com-Perlambatan pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur pada triwulan I 2026 dinilai menjadi pengingat bahwa struktur ekonomi daerah masih sangat bergantung pada sektor pertambangan. Kondisi tersebut sekaligus menjadi momentum untuk mempercepat pengembangan sektor industri pengolahan, jasa, dan ekonomi bernilai tambah sebagai penopang pertumbuhan baru.
Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI), ekonomi Kaltim pada triwulan I 2026 tumbuh 2,99 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, seiring melambatnya kinerja sektor pertambangan yang masih menjadi kontributor terbesar perekonomian daerah.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Kalimantan Timur Jajang Hermawan mengatakan perlambatan tersebut dipengaruhi penyesuaian produksi batu bara nasional melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, yang berlangsung bersamaan dengan dinamika harga dan permintaan komoditas di pasar global.
Menurutnya, kondisi itu memperlihatkan bahwa ekonomi Kaltim tengah memasuki fase penyesuaian terhadap perubahan siklus komoditas.
“Hal ini menunjukkan adanya fase adaptasi ekonomi wilayah terhadap fluktuasi sektor sumber daya alam, terutama komoditas batu bara. Fenomena tersebut sekaligus menegaskan urgensi percepatan transformasi ekonomi di Kaltim agar memiliki struktur ekonomi yang lebih variatif, bernilai tambah tinggi, dan berkelanjutan,” ujar Jajang.
Ia menilai ketergantungan terhadap sektor tambang harus mulai diimbangi dengan penguatan sektor-sektor lain yang memiliki prospek jangka panjang. Sejumlah sektor yang mulai menunjukkan perkembangan positif antara lain industri pengolahan, konstruksi, perdagangan, transportasi, logistik, dan jasa.
“Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk mempercepat penguatan sektor-sektor ekonomi baru yang telah mulai berkembang, antara lain industri pengolahan, konstruksi, perdagangan, transportasi, logistik, dan jasa,” katanya.
Jajang menjelaskan, proses transformasi ekonomi di Kaltim sebenarnya telah berjalan melalui sejumlah proyek strategis yang tengah dikembangkan pemerintah. Pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina Balikpapan, hingga pengembangan Kawasan Industri Bontang diyakini mampu menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Selain mendorong masuknya investasi, proyek-proyek tersebut juga diperkirakan meningkatkan pembangunan infrastruktur, membuka lapangan kerja, serta memperbesar nilai tambah yang dihasilkan di dalam daerah.
“Ke depan, prospek ekonomi Kaltim akan sangat dipengaruhi oleh kecepatan realisasi berbagai agenda transformasi tersebut,” tutupnya.(*rbn/jay)
- Penulis: Editor






Saat ini belum ada komentar