Keracunan Puding di Waru, Wabup PPU Perintahkan Evaluasi Total Dapur MBG
- calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
- print Cetak

Foto: Wakil Bupati PPU, Abdul Waris Muin (ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PPU, kaltimupdatenews.com – Insiden dugaan keracunan makanan yang menimpa puluhan siswa di Kecamatan Waru memicu reaksi keras dari Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya menjadi penopang kesehatan siswa kini tengah berada di bawah evaluasi besar-besaran.
Wakil Bupati PPU, Abdul Waris Muin, menegaskan pihaknya tidak akan tinggal diam. Ia menginstruksikan audit menyeluruh terhadap seluruh Satuan Pelayanan Persiapan Gizi (SPPG) atau dapur penyedia MBG di wilayah PPU.
Insiden yang terjadi pada Rabu (11/02/2026) ini tercatat berdampak pada 25 siswa, yang terdiri dari 16 laki-laki dan 9 perempuan. Mayoritas korban merupakan pelajar dari SDN 008 (24 siswa) dan satu orang lainnya dari SMA Negeri 2.
Berdasarkan laporan awal, gejala keracunan muncul setelah para siswa mengonsumsi hidangan penutup berupa puding. Saat ini, fokus utama pemerintah adalah memastikan penanganan medis para siswa di Puskesmas Waru berjalan optimal.
Waris mengakui bahwa pengawasan di wilayah Waru sempat sedikit melonggar karena agenda kedinasan di luar daerah. Padahal, ia biasanya menerapkan metode “intelijen” unik untuk menjaga kualitas makanan.
“Saya biasanya mengontrol lewat anak-anak dan guru. Saya meminta foto sisa makanan mereka setiap hari untuk melihat menu apa yang tidak habis dan mengapa. Dari situ kita bisa mengevaluasi kekurangan gizi atau ketidaksesuaian menu,” ungkap Waris.
Ia menambahkan bahwa kejadian ini menjadi sinyal merah bahwa pengawasan terhadap menu tambahaN Seperti buah dan puding sering kali luput dari perhatian dibandingkan menu utama.
Sebagai tindak lanjut, Wabup akan segera memanggil seluruh pemangku kepentingan dan pengelola SPPG untuk duduk bersama. Beberapa langkah yang akan diambil meliputi mencari tahu apakah penyebabnya ada pada bahan baku, proses pengolahan, atau distribusi.
“Memastikan setiap menu tambahan melalui uji kelayakan yang sama ketatnya dengan menu utama. Meninjau kembali kelayakan dapur-dapur penyedia yang bermitra dengan pemerintah,” terangnya.
Di tengah kepanikan yang muncul, Waris meminta para orang tua siswa untuk tetap tenang. Pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk bertanggung jawab dan melakukan perbaikan sistem secara permanen.
“Kami tidak ingin langsung menghakimi satu pihak sebagai kesalahan mutlak sebelum ada hasil evaluasi. Namun, kami pastikan ini menjadi pelajaran penting agar anak-anak kita tetap mendapatkan asupan yang sehat dan bergizi tanpa rasa khawatir,” pungkas Waris.(Sir)
- Penulis: editor



Saat ini belum ada komentar