Tim Glintra Fisika UM Kembangkan Sensor Kolorimetri untuk Deteksi Kromium, Upaya Jaga Kualitas Air
- calendar_month 2 menit yang lalu
- print Cetak

Foto: Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Glintra dari Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Negeri Malang (ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MALANG, kaltimupdatenews.com-Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Glintra dari Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Negeri Malang (UM), mengembangkan sensor kolorimetri berbasis nanokomposit perak (Ag), emas (Au), dan seng oksida (ZnO) untuk mendeteksi ion kromium trivalen (Cr³⁺) dalam air. Inovasi tersebut diharapkan menjadi alternatif metode pemantauan pencemaran logam berat yang lebih cepat, sederhana, dan ekonomis.
Ketua Tim Glintra, Siti Mustannatul Mahfiah mengatakan, penelitian ini dilatarbelakangi oleh potensi pencemaran ion Cr³⁺ dari aktivitas industri yang dapat menurunkan kualitas lingkungan perairan. Di sisi lain, metode pengujian kualitas air secara konvensional umumnya membutuhkan peralatan khusus, biaya relatif tinggi, serta prosedur laboratorium yang tidak sederhana.
“Kondisi tersebut mendorong perlunya pengembangan teknologi sensor yang lebih praktis dan berpotensi diterapkan untuk pemantauan kualitas air di lapangan, ” kata Siti, Jumat (30/10/2026).
Lebih lanjut, tim Glintra merancang sensor dengan memanfaatkan karakteristik optik nanokomposit Ag/Au/ZnO. Prinsip kerjanya didasarkan pada perubahan respons warna akibat interaksi material sensor dengan ion Cr³⁺. Perubahan tersebut diharapkan dapat diamati secara visual sehingga proses identifikasi keberadaan ion logam dalam sampel air menjadi lebih mudah.
Penelitian yang berlangsung pada 10 Agustus hingga 30 Oktober 2026 ini dilaksanakan di Laboratorium Fotonik, Departemen Fisika, Universitas Negeri Malang. Tahapan penelitian meliputi sintesis nanokomposit Ag/Au/ZnO menggunakan metode ablasi laser Nd:YAG, karakterisasi sifat optik dengan spektroskopi ultraviolet-visible (UV-Vis), serta pengujian respons sensor terhadap variasi konsentrasi ion Cr³⁺.

Untuk mengevaluasi kinerja sensor, tim menganalisis perubahan puncak Localized Surface Plasmon Resonance (LSPR).
“Analisis tersebut digunakan untuk mengkaji respons optik material terhadap keberadaan ion target, sekaligus menentukan karakteristik sensitivitas, batas deteksi, dan waktu respons sensor, ” jelasnya.
Riset ini diketuai oleh Siti Mustannatul Mahfiah dengan anggota Winny Cintania Pudhyastuti, Mohammad Amirul Falah, dan Indra Agung Maulana. Penelitian tersebut dibimbing oleh Ir. Nurul Hidayat, S.Si., M.Si., Ph.D. Berdasarkan hasil pengujian yang diperoleh tim, sensor menunjukkan potensi untuk mendeteksi keberadaan ion Cr³⁺ secara cepat dan tepat.
Pengembangan sensor ini tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan inovasi di bidang fisika dan nanoteknologi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi upaya pengawasan pencemaran lingkungan.
“Harapan ke depan, penelitian ini tidak hanya berkontribusi bagi pengembangan ilmu fisika dan nanoteknologi, tetapi juga menghasilkan sensor kolorimetri yang dapat digunakan untuk mendeteksi pencemaran logam berat Cr³⁺ sejak dini. Dengan begitu, teknologi ini bisa menjadi solusi yang sederhana, murah, dan berkelanjutan untuk menjaga kualitas air di Indonesia,” ujarnya.

Ke depan kata Siti, teknologi tersebut berpotensi dimanfaatkan oleh industri, instansi pengelola lingkungan, maupun pihak lain yang membutuhkan metode pemantauan kualitas air secara mandiri. Namun, pengembangan lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan akurasi, stabilitas, selektivitas, serta keandalan sensor dalam berbagai kondisi sampel air sebelum diterapkan secara luas.
Selain berkontribusi terhadap pengembangan teknologi deteksi berbasis nanomaterial, penelitian ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan keenam, yakni Air Bersih dan Sanitasi Layak.
“Secara spesifik, inovasi tersebut mendukung Target 6.3 yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas air melalui pengurangan pencemaran dan pelepasan bahan kimia berbahaya, ” ujarnya.
Melalui inovasi ini, Tim Glintra berharap pengembangan sensor kolorimetri berbasis nanokomposit Ag/Au/ZnO dapat menjadi salah satu langkah preventif dalam mendeteksi pencemaran logam berat sejak dini sekaligus mendukung upaya perlindungan ekosistem perairan di Indonesia.(Jay)
- Penulis: Editor



Saat ini belum ada komentar