Remaja Korban Kekerasan Ayah Tiri di Samarinda Diberikan Ruang Aman dan Pendampingan Hukum
- calendar_month Senin, 29 Jun 2026
- print Cetak

Foto: ilustrasi pemerkosaan (ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KALTIM, kaltimupdatenews.com-Langkah cepat diambil oleh Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kalimantan Timur dalam menangani kasus kekerasan seksual yang menimpa seorang siswi SMA di Samarinda. Bersama pihak keluarga, lembaga peduli anak ini resmi menyerahkan berkas laporan ke Polsek Sungai Pinang guna mengusut tuntas tindakan non-manusiawi yang diduga dilakukan oleh ayah tiri korban.
Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun, menegaskan bahwa kepastian hukum dan keselamatan korban menjadi fokus utama saat ini setelah laporan resmi dilayangkan pada Jumat malam.
“Pendampingan hukum sudah berjalan. Semalam kami bersama kakak kandung korban telah memaparkan seluruh kronologi kepada penyidik di Polsek Sungai Pinang agar proses hukum bisa segera bergulir,” kata Rina, Senin (29/6/2026).
Kasus yang menimpa remaja kelas 1 SMA ini terkuak berkat kepekaan dan kepedulian guru mengaji korban. Menyadari adanya perubahan kondisi fisik yang tidak biasa, sang guru melakukan pendekatan personal hingga akhirnya mendapati korban tengah mengandung dengan usia kehamilan lima bulan berdasarkan pemeriksaan medis. Respons cepat langsung diambil dengan melaporkan temuan ini ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kaltim, yang kemudian berkolaborasi dengan TRC PPA.
“Begitu simpul informasi kami terima, tim hukum dan psikolog langsung bergerak menemui korban. Asesmen menyeluruh kami lakukan demi memetakan tindakan terbaik untuk hak-haknya,” urai Rina menambahkan.
Dari hasil dialog mendalam, terungkap bahwa korban telah mengalami tekanan psikis dan fisik sejak duduk di bangku kelas 5 SD. Selama bertahun-tahun, remaja ini berhasil mempertahankan diri dari ancaman tersebut. Namun, situasi berubah pada Januari 2026, ketika terduga pelaku memanfaatkan dominasi fisik dan ruang rumah yang sepi saat anggota keluarga lain sedang bekerja. Saat ini, prioritas utama dialihkan pada stabilitas emosional korban yang mengalami trauma mendalam. Korban telah dievakuasi ke lingkungan baru yang lebih kondusif dan suportif.
“Anak ini mengalami guncangan psikis yang cukup berat. Oleh karena itu, posisinya saat ini sudah kami amankan di kediaman tantenya agar dia bisa memulihkan diri tanpa rasa takut,” tutur Rina. (*rbn/Jay)
- Penulis: Editor






Saat ini belum ada komentar